ETIKA PEMBEBASAN


ETIKA PEMBEBASAN ARTHUR SCHOPENHAUER

oleh:Ibnu rosan

1. Mengenal Artur Schopenhauer

Shopenhauer dapat disebut sebagai seorang filsuf yang masih mempunyai hubungan erat dengan idealisme Jerman dan murid ideal dari Kant. Tetapi Schopenhauer merupakan satu figur yang asing dalam deretan filsuf Eropa, teristimewa karena keperibadian dan karena filsafat India. Ia lahir dari sebuah keluarga pedagang di kota Danzig pada tanggal 22 Februari 1788. Ketika kota Danzig diserahkan kepada Prusia tahun 1793, keluarganya turut berimigrasi ke Hamburg dan menetap di sana sampai ayahnya meninggal tahun 1805. Ibunya adalah seorang Novelis yang kemudian mendirikan sebuah salon di Weimar. Di tempat inilah Schopenhauer kemudian berkenalan dengan Göthe yang sangat berpengaruh dalam kehidupannya selanjutnya.

Masa pendidikan Schopenhauer ditempuhnya selama dua tahun di Prancis, beberapa bulan di London dan juga di Swiss dan Austria. Selepas kematian ayahnya, ia masuk Universitas Göttingen sebagai mahasiswa kedokteran sebelum belajar fisika, kimia dan botani. Secara khusus pada kesempatan ini untuk pertama kali ia membaca karya-karya Plato dan Kant. Kedua tokoh ini kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam pemikirannya dalam bidang filsafat.

Di Universitas Berlin, Schopenhauer sengaja meminta mata kuliahnya diberikan pada jam sama seperti Hegel, dengan harapan bahwa orang akan membanjiri kuliahnya dan menjauhkan Hegel yang terlalu berbelit-belit. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Selama dua puluh tahun pertama, karya utamanya tidak banyak dikenal. Kalau kemudian filsafat Scopenhauer diperhatikan, itu lebih karena kekecewaan di Jerman dan Eropa pada umumnya setelah revolusi pada tahun 1848. Revolusi dipandang tidak mendatangkan perubahan seperti yang dibicarakan oleh Kant dan Hegel. Karena itu, sikap pesimistis menemukan pada Schopenhauer penjelasan filosofisnya. Sejak tahun 1850 karyanya mulai dikenal.

2. Pengaruh Immanuel Kant atas Arthur Schopenhauer

Gagasan filosofis Schopenhauer mendapat pengaruh yang cukup kuat dari Kant. Bahkan ada yang menyebut Schopenhauer sebagai seorang Kantian. Kant memahami dunia sebagai realitas yang memiliki aspek ganda.[1] Yang pertama adalah dunia yang dikenal oleh kita. Itulah dunia fenomenal. Dunia ini terdiri atas  objek-objek indrawi yang dikonstruksikan oleh subjek yang mengerti melalui peralatan kognitifnya yakni persepsi indrawi dan rasio.

Yang kedua adalah dunia yang berada di belakang fenomenon-fenomenon. Inilah dunia yang disebut dunia noumenal. Kant menyebutnya dunia Das Ding an Sich. Ia adalah realitas pada dirinya sendiri. Dunia ini tidak bisa kita indrai secara nyata. Ciri-cirinya pun tidak kita ketahui. Kita hanya dapat tahu bahwa dunia itu ada. Dengan kata lain, dalam pemikiran Kant, dunia yang dapat kita ketahui adalah hanya dunia fenomenal. Sedangkan dunia noumenal sama sekali tersembunyi bagi kita.

Schopenhauer mencoba memahami realitas dunia dengan kerangka pemikiran Kant ini. Meski menggunakan kerangka pemikiran Kant, Schopenhauer tidak mengikuti begitu saja pemikiran Kant. Bahkan, Schopenhauer mampu menghasilkan pemikiran yang sangat  berbeda dengan Kant, khususnya ketika ia berbicara  tentang dunia noumenal. Ia menyebut dunia noumenal itu sebagai kehendak. Sedangkan dunia fenomenal sebagai presentasi.

3. Dunia sebagai Presentasi dan Kehendak

a. Dunia sebagai Presentasi

Schopenhauer menyetujui pemikiran Kant tentang dunia fenomenal. Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita alami adalah objek bagi subjek. Apa yang kita alami setiap hari, sebagai sebuah kenyataan yang dapat diindrai,  merupakan presentasi-presentasi  atau gambaran-gambaran mental  kita sendiri.[2] Kenyataan fenomenal inilah yang dia sebut sebagai dunia presentasi. Dari dunia yang kelihatan itu, yang dapat kita ketahui hanyalah gejala-gejala.

Dalam perkembangan lebih lanjut, gagasan tentang dunia fenomenal ini mendapat pengaruh kuat dari filsafat Timur, khususnya ketika Schopenhauer membaca Upanishad.  Schopenhauer menegaskan bahwa dunia presentasi merupakan sebuah penampakan. Oleh karena kenyataan fenomenal itu adalah penampakan, maka dunia itu adalah maya.[3] Akan tetapi, ia tidak berhenti pada yang maya ini. Bagi dia, di balik dunia yang maya ini ada sebuah kenyataan metafisis yang disebutnya dunia kehendak.

b. Dunia sebagai Kehendak

Kant menyebut dunia das Ding an Sich sebagai dunia noumenal, kenyataan yang lepas dari persepsi kita. Manusia tidak dapat tahu tentang dunia noumenal ini. Terhadap dunia yang tidak diketahui inilah Schopenhauer memberikan jawaban. Schopenhauer menyebut dunia noumenal ini sebagai kehendak. Kehendak merupakan sebuah realitas transendental yang berada di belakang realitas fenomenal yang kita rasakan.[4] Di sini, Schopenhauer hendak mengatakan juga bahwa realitas pada hakikatnya adalah berupa kehendak. Dengan demikian, di belakang dunia empiris yang kita alami setiap hari, di sanalah terdapat kehendak transendental.

Bagaimana manusia dapat mengetahui kehendak transendental ini? Meskipun menurut Kant kehendak transendental ini terttutup bagi manusia, karena itu kita tidak tahu, Schopenhauer justru memberikan jawaban yang meyakinkan. Bagi Schopenhauer hati merupakan instrumen yang dapat kita pakai untuk mengerti tentang kenyataan transendental ini. Di dalam hati, ditemukan bermacam-macam wujud dari kehendak manusia. Dalam hati manusia ada kerinduan, hasrat, keinginan, harapan, cinta, kebencian, penderitaan, pengertian, dan sebagainya. Schopenhauer menyebut ini semua sebagai pengalaman manusia yang tak terhindarkan. Itulah kehendak.

Schopenhauer menegaskan bahwa apapun yang dialami oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, itu semua merupakan objektivikasi dari kehendak.[5] Bahkan, menurut Schopenhauer, segala gejala alam juga merupakan ungkapan kehendak. Dengan kata lain, kehendaklah yang menjadi dasar dari segala kenyataan yang ada dalam alam semesta. Bagi Schopenhauer dunia yang sesungguhnya adalah dunia  yang bersifat kehendak. Inilah yang disebutnya sebagai kehendak metafisis.

Kehendak, menurut Schopenhauer, adalah realitas pada dirinya sendiri. Untuk dapat memahami konsep ini, kita dapat membandingkannya dengan apa yang disebut sebagai daya yang memberi hidup. Dengan demikian kehendak yang dimaksudkan oleh Schopenhauer adalah kehendak untuk hidup. Kehendak inilah yang memengaruhi seluruh gerak hidup manusia.[6] Kehendak itu, disebut oleh Schopenhauer sebagai sebuah energi yang buta. Dunia batin, termasuk juga akal budi kita dikuasai oleh energi ini. Ia berada di luar ruang dan waktu. Kehendak inilah yang menguasai segala yang hidup.

4. Etika Pembebasan Arthur Schopenhauer

a. Manusia dalam Dinamika Kehendak

Kehendak metafisis yang dipahami oleh Schopenhauer merupakan sebuah kenyataan yang tak berhingga. Tidak terbatas. Ia menguasai seluruh diri kita, alam semesta dan apapun juga yang ada. Manusia digerakkan oleh kekuatan ini. Dorongan dari kekuatan ini tak pernah mencapai kepuasan. Bertitik tolak dari pemikiran seperti ini, Schopenhauer menyimpulkan bahwa hidup manusia penuh frustrasi.  Bahkan ia dengan berani mengatakan bahwa hidup manusia, pada dasarnya, adalah penderitaan. Di sinilah kita melihat pandangannya tentang manusia yang sangat pesimistis.

Mengapa hidup manusia adalah menderita? Hal itu oleh karena kita tidak pernah merasa tenang dan tidak pernah puas. Kita memiliki banyak kerinduan dalam diri, juga berbagai keinginan, hasrat, harapan, kekhawatiran dan sebagainya. Hidup manusia tidak pernah mendapat ketenangan selama ia  masih dikuasai oleh banyak keinginan dan hasrat ini. Dengan kata lain, kita mederita oleh karena hidup kita selalu dipengaruhi oleh kehendak.

Manusia hidup di alam fenomenal. Dan pada saat yang sama kehedak metafisislah yang memengaruhi seluruh hidup kita. Di sinilah manusia hidup dalam ketegangan dan penderitaan. Hal itu oleh karena kehendak transendental ini selalu menggerakkan manusia dalam banyak hal, namun tidak dapat dipenuhi dalam dunia fenomenal yang terbatas ini. Inilah yang menyebabkan manusia selalu resah.[7] Karena itu, manusia tidak pernah hidup dengan tenang dan bahagia di dunia fenomenal ini.

b. Jalan Pembebasan Manusia

Jika hidup manusia adalah penderitaan, bagaimana kita dapat bebas?  Bagaimana caranya supaya manusia bebas dari segala macam keinginanan dan hasratanya yang membuatnya tidak tenang? Schopenhauer menawarkan dua jalan.[8]

1. Jalan Estetika

Jalan pertama yang dapat digunakan untuk memadamkan hasrat-hasrat yang ada dalam diri manusia adalah melalui kontemplasi estetis. Apa yang dapat dilakukan melalui kontemplasi estetis adalah usaha memandang sebuah objek keindahan bukan sebagai objek nafsu. Kontemplasi estetis berarti orang berusaha menemukan makna keindahan dalam objek itu. Kontemplasi estetis membuat manusia terlepas dari relasi kausalitas dan terpisah dari determinasi kehendak. Ia memapukan kita untuk hanya memerhatikan, untuk membiarkan yang ada berbicara. Pendek kata, kontemplasi estetik memungkinkan manusia  bebas dari cengkeraman segala macam keinginan dan hasrat dirinya.

Salah satu bentuk seni yang mampu membawa manusia pada pembebasan estetis adalah musik. Musik adalah ungkapan langsung dari kehendak dan dengan demikian ia berasal dari hakekat dunia. Melalui musik kehendak teransendental itu langsung berbicara kepada kita dan kita terlepas dari dunia “maya” ini.  Akan tetapi, jalan melalui kontemplasi estetika ini hanya berlaku untuk sementara. Ia hanya memberikan kepuasan untuk sementara waktu. Setelahnya, kita kembali mengalami hal yang sama yakni penderitaan.

2. Jalan Etika

Jalan etika adalah jalan yang baik menuju pembebasan. Bagi Schopenhauer, manusia adalah budak kehendak. Manusia memiliki keinginan macam-macam dalam hidup, dan itulah yang menyebabkannya menderita.  Dapat dikatakan bahwa hidup itu sendiri adalah penderitaan.[9] Bagaimana jalan etika ini mampu membebaskan manusia dari kungkungan kehendaknya ini? Schopenhauer berangkat dari pandangannya bahwa segala kemajemukan di dunia fenomenal ini hanyalah penjabaran dari kehendak transendental yang ada di belakangnya. Agar manusia bisa bebas dari penderitannya, ia harus mampu berusaha menembus dunia fenomenal atau dunia yang maya. Hal itu dapat dilakukan dengan melakukan abstraksi terhadap individualitas kenyataan fenomenal dan menemukan simpati etis terhadap manusia lain.[10]

Schopenhauer,  dalam pandangan kehendak metafisisnya, melihat dunia sebagai sebuah kesatuan. Konsep ini hendak mengatakan juga bahwa eksistensi individual seseorang itu hanya sebuah kenyataan fenomenal.  Dan dapat dikatakan bahwa manusia dapat menemukan diri dalam diri sesama di sekitarnya. Kesadaran inilah yang mampu membebaskan manusia dari segala bentuk egoisme. Sebab tak ada alasan yang membenarkan bahwa kita harus didahulukan dari sesama. Bahkan lebih tepat kalau kita mendahulukan sesama, karena hal membuat kita menjadi manusia bebas. Inilah yang disebut Schopenhauer sebagai sikap belas kasih terhadap sesama. Sikap belas kasih melepaskan manusia dari egoisme dan segala hasrat yang membuatnya menderita. Karena itu, sikap belas kasih membebaskan manusia dari kekuasaan kehendak.

5. Penutup: Catatan Kritis atas Pandangan Etika Pembebasan Arthur       Schopenhauer

Etika yang digagas oleh Schopenhauer adalah etika yang bersifat negatif. Ia secara eksplisit memusuhi hidup. Ia memiliki konsep yang pesimistik tentang manusia. Hal itu oleh karena di dalam diri manusia ada kehendak. Dan kehendak itulah yang menyebabkan manusia menderita. Maka, ia mengatakan bahwa hidup manusia adalah sebuah penderitaan. Kehendak itu menyatakan diri dalam bermacam-macam dorongan, hasrat, keinginan dan kemauan. Dan semuanya itu tak pernah terpuaskan dalam diri manusia yang hidup. Manusia memiliki banyak keinginan tetapi kemungkinan untuk memnuhi semuanya itu sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan manusia selalu menjadi tidak tenang. Namun manusia tidak mungkin mengelak semua kenyataan itu. Itulah hidup. Karena itulah, Schopenhauer berani mengatakan bahwa hidup adalah sebuah kesalahan fundamental. Hidup adalah sebuah penderitaan. Kalau manusia ingin membebaskan diri dari kenyataan ini, itu berarti ia membebaskan diri dari kehidupan.

Schopenhauer menawarkan dua jalan untuk membebaskan manusia dari penderitaan hidupnya. Jalan yang pertama adalah jalan estetika. Saya menyetujui bahwa melalui kontemplasi estetis dalam karya-karya seninya manusia bisa bebas dari penderitaannya. Akan tetapi, jalan ini hanya mampu membebaskan manusia untuk sementara waktu. Dan ia tetap kembali kepada hidup awalnya yang menderita. Sebab ia tetap hidup dari kehendak. Kecuali itu, jalan ini juga tidak berlaku untuk semua orang. Pengalaman kontemplasi seni hanya dialami oleh orang-orang yang memiliki bakat seni. Dengan kata lain, pengalaman pembebasan hanya dialami oleh sebagian orang. Yang jelas jalan ini bukanlah jalan ideal.     Jalan kedua yang ditawarkan Schopenhauer adalah jalan etika. Manusia bisa bebas dari penderitaan dengan sikap  belas kasih terhadap sesama. Melalui sikap belas kasih manusia bisa membebaskan diri dari egoisme. Saya menyetujui bahwa cara seperti ini cukup baik daripada cara yang pertama. Sebab melalui sikap simpati terhadap orang lain, kita ikut terlibat dalam menyebarkan kebaikan kepada orang lain, bahkan terhadap masyarakat. Namun apakah itu justru memperpanjang penderitaan?  Dengan kata lain, jalan inipun tidak begitu saja mampu membebaskan manusia dari penderitaan.

Saya sangat senang dengan gagasan filossofis dari Schopenhauer ini. Ia memiliki alur pikir yang hampir tak terbantahkan. Meskipun dua jalan yang ditawarkannya tetap saja memiliki kelemahan, namun kedua jalan ini merupakan sebuah sumbangan yang berharga untuk hidup manusia. Sebab bagaimanapun kehidupan manusiatak pernah lepas dari pengalaman penderitaan. Penderitaan adalah sisi lain dari kehidupan manusia. Ia lekat dengan manusia. Melalui sikap belas kasih atau simpati terhadap sesama, manusia tidak saja menjadi lebih bebas tetapi juga hal itu mampu menumbuhkan nilai-nilai moral dalam hidupnya. Dengan kata lain, sikap belas kasih semakin memungkinkan kebaikan itu terus bertumbuh dalam hidup manusia. Gagasan Schopenhauer ini masih sangat relevan untuk manusia zaman ini. Bagaimanapun  penderitaan merupakan sebuah kenyataan yang dihadapi oleh siapapun dan kapanpun, apalagi di tengah-tengah dunia yang penuh persaingan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hamersma, Harry. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT Gramedia, 1984

Hardiman,  F. Budi. Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Suseno, Franz Magnis. 13 Tokoh Etika, Sejak Zaman Yunani sampai Abad Ke-19. Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Weij, P. A. Van Der. Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia. (terj. K. Bertens). Jakarta: PT Gramedia, 1988.

L. Tjahjadi, Simon Petrus, Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Mudji Sutrisno Fx, Christ Verhaak, Estetika Filasafat Keindahan, Yogyakarta: Kanisius, 1993).

Mudji Sutrisno, FX, (ed), Manusia Dalam Pijar-pijar Kekayaan Dimensinya, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Kant, Imannuel, (terj), Kritik Atas Akal Budi Praktis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Van der Weij P. A., Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, Kanisius:Yogyakarta, 2000.

Budi Kleden, Paul, Membongkar Derita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2006).


[1] Franz Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika, Sejak Zaman Yunani sampai Abad Ke-19, Yogyakarta: Kanisius, 1997, hlm. 162.

[2] F. Budi Hardiman,  Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004, hlm.  217

[3] Ibid., hlm. 219.

[4] F. Magnis Suseno,  Op. Cit., hlm. 163.

[5] Ibid

[6] Bdk. Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: PT Gramedia, 1984, hlm. 60-61

[7] F. Magnis Suseno, Op. Cit., hlm. 166.

[8] Ibid.,  hlm166-169

[9] Ibid., hlm 167.

[10] F. Budi Hardiman, Op. Cit., hlm. 225.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s