Meningkatkan Kualitas Sistem Perkaderan Secara Merata


P20-05-12_14-25Untuk melakukan mobilisasi kader militan yang memiliki kesadaran ideologis yang memaknai nilai-nilai keislaman secara merata, HMI harus menyiapkan sebuah sistem pendidikan yang lebih dikenal dengan istilah sistem perkaderan. Sistem perkaderan ini diharapkan menjadi instrumen pendidikan yang solid di HMI. Menurut Jalaluddin Rakhmat upaya rekayasa sosial (social engineering) dapat dilakukan melalui dua hal yakni pendidikan dan pers. Membangun sistem perkaderan yang baik merupakan sebuah strategi dari HMI dalam upaya rekayasa sosial yang bertujuan nantinya mewujudkan masyarakat adil yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Dalam sistem perkaderan yang baik akan menghasilkan kader-kader yang militan. Ada dua perkaderan yang dikenal di HMI yaitu perkaderan formal dan perkaderan non-formal. Perkaderan formal ini dimulai dari Latihan Kader I (basic training), Latihan Kader II (intermediate training), dan Latihan Kader III (advance training) serta beberapa latihan khusus lainnya. Sedangkan perkaderan non-formal adalah ilmu-ilmu yang didapat kader dalam bergaul dengan para kader lainnya terutama para kader yang senior.

Pembakuan sistem perkaderan akan dapat menyamaratakan atau setidaknya mengurangi perbedaaan kualitas kader antar cabang. Karena sering terjadi di salah satu cabang kualitas kadernya sangat baik, sementara di cabang lain kualitas kadernya biasa-biasa saja. Disinilah peran pentingnya penyiapan lembaga perkaderan untuk setiap cabang yang ada diseluruh Indonesia.  Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh Pengurus Besar HMI (PB HMI) adalah dengan melakukan distribusi TIM Master antar cabang. Sehingga ada transfer ilmu dari satu cabang ke cabang yang lain. Sehingga kemampuan yang dimiliki TIM Master menjadi milik publik (kader). Penyebaran ini merupakan bentuk konkrit untuk memberikan keseragaman kualitas kader di seluruh cabang yang ada di Indonesia.

Selain itu pembenahan di Lembaga Perkaderan yang harus terus dievaluasi setiap tahunnya. Loka karya perkaderan diperlukan untuk merumuskan perubahan-perubahan sistem perkaderan. Karena perkembangan zaman dan gaya hidup dari calon kader harus diimbangi dengan perubahan pola perkaderan yang sudah ada, tanpa harus merubah nilai-nilai yang dianut.

Konsolidasi Internal dan Eksternal Organisasi

Setelah perbaikan sistem perkaderan maka hal lain yang juga penting adalah  konsolidasi. Konsolidasi sangat diperlukan untuk mensinergikan seluruh potensi yang dimiliki.  Pada prinsipnya tugas pokok organisasi ada dua yaitu pertama mengumpulkan kekuatan dan yang kedua menggunakan kekuatan itu sendiri.

Untuk mengumpulkan kekuatan tersebut ada lima cara yang harus diupayakan oleh sebuah organisasi :

  1. Memelihara dan menciptakan sumber potensi
  2. Mengolah sumber potensi menjadi potensi
  3. Mengolah potensi menjadi kekuatan
  4. Memelihara dan mempertinggi kualitas kekuatan
  5. Menyediakan kekuatan setiap waktu diperlukan organisasi, sehingga mejadi kekuatan yang siap pakai (cit. Agussalim Sitompul, 40 Indikator kemunduran HMI. op cit Santo Tukimin)

Berdasarkan sejarah HMI, kelima hal tersebut sudah penah dilakukan dan terus berulang kembali sehingga menemukan titik kesempurnaan nantinya. Namun sayangnya, kelima hal tersebut semakin lama semakin tidak dapat dipenuhi. Jika pun terpenuhi mungkin hanya untuk para orang saja dan tidak bisa dilembagakan.

Oleh sebab itu, perlu adanya evaluasi yang mendalam. Salah satu bentuk evaluasi yang bagus adalah melaksanakan konsolidasi secara nasional. Organisasi HMI merupakan organisasi yang besar, sehingga untuk menanganinya harus dilakukan secara bersama dan bukan hanya dilakukan oleh beberapa orang saja. Konsolidasi dapat memberikan efek positif yang antara lain :

1. Komunikasi yang lancar

  • Kinerja organisasi tidak bermanfaat pada tahap realisasi jika komunikasi tersumbat. Komunikasi merupakan untur yang penting dalam membangun kesolidan antara sesama pengurus dan antara pengurus dengan pengurus cabang yang lain se – Indonesia. Sehebat apapun pengurusnya jika kemampuan untuk membangun komunikasi tidak mendapat perhatian maka jadilah progaram kerja itu hanya di konsumsi oleh pengurus saja. Sehingga manfaat program kerja yang baik itu tidak sampai kepada para anggota lainnya.
  • Dengan komunikasi organisasi akan dapat menempatkan HMI sebagai wadah dalam mewujudkan perubahan yang dicita-citakan HMI itu sendiri. Keuntungan lainnya, dengan komunikasi organisasi yang baik, akan melahirkan jejaring simpul yang akan bermanfaat nantinya bila saatnya akan diperlukan.

2. Solidarity Making

  • Konsolidai yang efektif akan menimbulkan perasaan kekuatan bersama. Kesepahaman dalam menjalankan organisasi mencegah dari konflik yang berkepanjangan. Karena konsolidasi (jejaring) yang dibangun akan merupakan kekuatan yang tersembunyi. pada saatnya nanti, akan ada momentum yang membuka peluang untuk bergabungnya antar ekstra organisasi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s