UP GRADING BPL HMI CABANG SURABAYA


Gambar

“ Menjadi Instruktur di HMI itu bukan cari makan, Jadi masih inginkan kah anda menjadi instruktur di HMI” itu kata-kata pembuka kanda Sumardi, S.Pd pada acara Up Grading BPL Cabang Surabaya dulu 13 Nov 2012 di sekret Cabang jln. Sumatera 36a.Mantan BPL PB sekarang menjabat sebagai Wasekjen Pemberdayaan Umat (PU) PB HMI mengatakan bahwa seorang instruktur itu harus bisa dan menguasai forum serta tahu Psikologi dari kader, meminjam kata-katanya Hornby anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan, memiliki integritas yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal saleh sehingga siap mengemban tugas kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Masih menurut Instruktur Sumardi, lelaki kelahiran Aceh ini mengatakan” Spirit Misi HMI adalah spirit trilogi misi Islam, yaitu :“Hendaknya diantara kamu ada umat yang melakukan da’wah ila al khair, amar makruf dan nahi mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang bahagia (Q.S. 3: 104)”. Dari potongan ayat di atas penulis mencoba mentafsirkan bahwa dalam ayat itu ada tiga spirit misi instruktur yaitu: Dakwah, Amal Ma’ruf, dan Mencegah kemunkaraan. Pada level Dakwah ini seorang instruktur harus bisa menteladani cara berdakwahnya Nabi, artinya seorang instruktur tidak hanya melulu bergulat dengan teori tapi ada aksi disitu yang harus balance dengan teori yang di sampaikan seperti apa yang di ajarkan Nabi bersabda “ Dakwah bi hal afdholu dakwah bi lisan” berdakwah dengan tindakan jauh lebih bagus ketimbang dakwah dengan teori. Hal ini lah yang melatar belakangi kenapa seorang instruktur harus bisa memformat, setting,mencari dan metelaah apa saja yang harus di lakukan Instruktur/Guru supaya bisa mengantarkan peserta didik (Kader) bisa menyerap materi yang di sampaikan. sedangkan pada level Amal ma’ruf titik tekan seorang master/instruktur harus bisa memahamkan bersama, dan bisa membangun asumsi bahwa pasca pelatihan peserta didik (Kader) bisa mengaplikasikan apa-apa yang sudah di kasihkan oleh para instruktu/pemateri. kemudian ketua komisariat, ketua umum cabang juga harus terlibat langsung bisa memback up nya. tetapi kondisi di lapangan berbanding terbalik. sejauh penulis menganalisa bahwa kader yang sudah di LK kan atau di Basic, peserta itu malah di titipkan kepada Allah SWT, bukan kita yang meramut, merawat. Hal ini lah yang sesegera mungkin kita atasi, entah pihak PB, Cabang, atau pun Komisariatnya. Kemudian level terakhir Nahi Munkar ini mengindikasikan bahwa seorang harus bisa menginsafkan peserta didik (kader) dari kebiasaan-kebiasaan buruk. Harapannya pasca pelatihan baik formal ataupun informal kader itu bisa sadar akan dirinya, sadar akan berorganisasi, dan sadar akan masa depannya.

Pada acara up grading kemarin Kanda Sumardi juga mengatakan: “ Masih banyak yang perlu di perhatikan dalam wilayah perkaderan buka pengkaderan di antaranya Strategi Recruitment dan Seleksi, Strategi Perencanaan SDM, Strategi Pelatihan & Pengembangan, Strategi Penilaian Aktivitas, Strategi Kompensasi, Strategi Pengurus – Anggota”. Kalau point-point di atas bisa optimal di lakukan penulis yakin perkaderan di HMI akan bisa mensejahterakan umat dan bangsa seperti harapan tujuan HMI terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai oleh Allah SWT.

7 thoughts on “UP GRADING BPL HMI CABANG SURABAYA

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s