Prof. KHR MUHAMMAD ADNAN (1889—1969)


“SALAH SATU ULAMA  PENDIRI IAIN JOGJA”

Seorang ulama, pendidik, dan guru besar agama Islam yang namanya tidak asing lagi di Indonesia. Sebagai tokoh ulama dalam jajaran kepenghuluan yang sebagai pengasuh Madrasah Manba’ul Ulum Surakarta yang banyak mendidik kader-kader penghulu keagamaan di Indonesia. Pendiri Mahkamah Syariah di Surakarta dan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) dan sebagai rektornya yang pertama, yang sebagai cikal-bakal IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ulama ini termasuk ahli dalam tradisi

            KH Raden Muhammad Adnan, nama kecilnya Shauman, dilahirkan pada tanggal 16 Mei 1889 di (Ramadhan P. tahun Jawa) di Surakarta, putera kelima Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V yang sebagai penghulu keratin dan pendiri Madrasah Manba’ul Ulum bersama KH Bagus Arfah. Ia mengaji kepada ayahnya sekaligus mendapatkan pendidikan tentang adat-istiadat dan budaya keratin Jawa (Surakarta). Selanjutnya ia nyantri di beberapa Pondok Pesantren; diawali Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung di bawah asuhan KH Abdul Fatah ( Mbah Fatah) selama beberapa tahun. Lantas Pesantren Mojosari, Nganjuk, asuhan KH Zainuddin. Beberapa tahun kemudian, kembali ke Surakarta karena ayahnya menghendaki agar ia mengennyam pendidikan formal. Lantas masuk Madrasah Manbaul Ulum, sekaligus belajar di Pondok Pesantren Jamsaren asuhan KH Idris. Pada saat itu, rata-rata pengasuh pesantren Jamsaren sekaligus guru di Manba’ul ulum.

            Ketika usianya 19 tahun, KH Raden Muhammad Adnan menunaikan ibadah haji dan melanjutkan sebagai mukimin al-Jawi di tanah suci Makkah selama enam tahun (1908—1914). Ia berguru kepada para ulama di sana baik yang berasal dari Timus Tengah dan belahan dunia lainnya maupun ulama al-Jawi (Nusantara, Melayu). Diantara gurunya Syekh Ahmad Khotib al-Minangkabawi, Syekh Abdul Hamid Kudus, Syekh Mahfudz al-Termasi, Syekh Mukhtar Attahir al-Bughri, Syekh Alwi bin Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yaman, Syekh Hasan bin Muhammad al-Mussyath dan Syekh Umar Hamdan dan Syekh Muhammad Amin Quthbi. Sahabat-sahabatnya sewaktu di Makkah antara lain: KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, dan KH Mas Mansur. Disamping bejalar berbagai disiplin ilmu keislaman, secara khusus ia mendapat ijazah thariqah Syadziliyyah dari Syekh Mahfudz bin Abdullah al-Turmusi.

            Setalah pulang ke tanah air KH Raden Muhammad Adnan kembali belajar di Madrasah Manba’ul Ulum sampai lulus kelas XI dan mendapat ijazah kepenghuluan. Selanjutnya, ia menjadi guru dan kepala Madrasan Manba’ul Ulum menggantikan ayahandanya (1917—1919). Kemudian dengan dibentuknya Penghulu Landrad (Pengadilan Negeri) Solo, ia diangkat sebagai Penghulu Landrad (Pengadilan Negeri) selama empat tahun (1919—1923) lantas naik menjadi penghulu landrad. Dalam perkembangannya pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan hukum umat Islam, membetuk Mahkamah Syariah Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama) di Banjarmasin, Solo, dan Surabaya. KH Raden Muhammad Adnan diangkat sebagai ketua Mahkamah Tinggi Syariah di Solo. Dalam dunia kepenghuluan, ulama ini mendirikan PPDP (Perhimpunan Penghulu dan Pegawainya) 1937 dan ia sebagai ketuanya.

            Pada masa kemerdekaan KH R. Muhammad Adnan diangkat sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) di Yogyakarta (1945—1949). Lantas anggota DPA semenetara (1950—1955) dan parlemen atau DPR (1955—1959) mewakili partai Masyumi. Ulama ini tetap aktif dalam dunia pendidikan sebagai kepala SGHI (Sekolah Guru dan Hakim Islam) kemudian berganti nama PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) tahun 1948. Selanjutnya menjadi SGHAN (Sekolah Guru dan Hakim Agama Negeri).

            KH R. Muhammad Adnan bersama KH Imam Ghozali (Pendiri Madrasah al-Islam, Solo, 1927) dan KH As’ad mendirikan PTII (Perguruan Tinggi Islam Indonesia) di Surakarta dengan tiga fakultas: Fakultas Agama Islam, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi. Yang kemudian bergabung dengan UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Dalam hal pendidikan negeri KH R. Muhammad Adnan merintis berdirinya PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di Yogyakarta (1950) bersama-sama KH Wahid Hasyim (Menteri Agama), Tengku Hasby as-Shiddiqy, KH Mukhtar Yahya,KH Thoha Yahya Umar, dan KH Anwar Musaddad. Sementara di Jakarta KH Mahmud Yunus Ki Musa al-Mahfudz dan H. Bustami Abdul Ghani mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA). KH R. Muhammad Adnan rektor PTAIN partama dengan sekretarisnya Mr. RH Sunaryo (1951—1960). Setelah menjelma menjadi IAIN Sunan Kalijaga, maka Prof. Mr. Sunaryo sebagai rektor dan KH R. Muhammad Adnan diangkat sebagai penasihat Lembaga Sejarah Kebudayaan IAIN. Sementara di Jakarta, Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) menjadi IAIN Syarif Hidayatullah. KH R. Muhammad Adnan diangkat sebagai guru besar (professor) bidang ilmu fiqih pertama kali di PTAIN (1956) dan selanjutnya sebagai guru besar IAIN Sunan Kalijaga.

            KH R. Muhammad Adnan disamping aktif di dunia pendidikan Islam dan kepenghuluan, juga aktif di dunia jurnalistik dan tulis-menulis, serta dunia dakwah. Ulama ini banyak menulis artikel di majalah Hudaya dan majalah Damai (1942) yang dipimpinnya. Kemudian mendirikan penerbit Mardikintoro yang banyak menerbitkan buku-buku berbahasa Jawa. Ulama ini bersama menantunya, KH Ahmad Shofawi, pengusaha batik yang kaya raya di Solo, banyak membantu masjid, musolla dan pesantren di daerah tersebut. Diantara yang monumental adalah pembangunan masjid jami Tegalsari Solo yang dipandengani kedua ulama tersebut.

            Prof. KH R. Muhammad Adnan banyak menulis kitab/ buku keagamaan, diantaranya berjudul Tafsir Al-Quran Suci (Tafsir berbahasa Jawi, terbit 1924); Ta’yid al-Islam (Kumpulan Khutbah Jumat, terbit pertama 1925); Tata Cara Islam (berisi tuntunan ajaran Islam dan adat istiadat kelahiran, pertumbuhan manusia, perkawinan hingga kematian, 1924); Hidayatul Islam (nasihat keagamaan, berbahasa Jawa, huruf pego, 1941); Risalah as-Siqoq (pembinaan Sengketa perkawinan, 1940); Madhmumah Aqidatul Awam (fiqh ibadah-muamalah dan nasihat keagamaan); Tuntunan Iman dan Islam (bunga rampai, 1961); Ilmu Fiqh dan Ushul fiqh (pidato pengukuhan sebagai guru besar PTAIN, 1956); Pedoman Mimbar Jumat (1970); Peringatan Hari-hari Besar Islam (Kumpulan ceramah, 1970); Mutiara Hikmah (kumpulan ceramah dan artikel, terbit 1980) dan beberapa yang lain.

            Prof. KH R. Muhammad Adnan tidak pernah aktif dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyyah walaupun sering sebagai perubaha haluan oleh organisasi tersebut. Ulama ini yang paling intens adalah mengabdi dalam bidang pendidikan Islam hingga akhir hayatnya tahun 1969. Walaupun demikian semua pihak ikut memiliki ulama besar ini dan karya-karyanya masih tetap dibaca orang hingga sekarang.

Referensi:

Ensiklopedi Nasional, Jilid I, Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1990.

Ensiklopedi Islam Indonesia I, IAIN Syahid, Jakarta, 2002.

Mastuki & Ishom el-Saha (ed.), Intelektualisme Pesantren III, Diva Pustaka, Jakarta, 2003.

Ismail, Ibnu Qoyim, Kiai Penghulu Jawa, Gema Insani Press, Jakarta, 1997.

Alkisah, No. 25/ th V/ 3-16 Desember 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s